
PEKANBARU – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh tenaga pendidik asal Riau di kancah internasional. Chandra Alfindodes, M.Pd., seorang guru Bahasa Inggris dari SMP Islam Al Azhar 37 Pekanbaru, sukses menuntaskan tugasnya sebagai delegasi Indonesia dalam program pertukaran guru bergengsi di Korea Selatan.Chandra terpilih menjadi satu dari delapan perwakilan Indonesia dalam program Asia-Pacific Teacher Exchange for Global Education (APTE) yang diselenggarakan oleh Asia-Pacific Centre of Education for International Understanding (APCEIU) di bawah naungan UNESCO. Program ini diikuti oleh total 26 guru terpilih yang berasal dari tiga negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand.Selama tiga bulan, Chandra ditempatkan di Wolseong Middle School yang terletak di kota bersejarah Gyeongju, Korea Selatan. Di sana, ia tidak hanya bertugas mengajar di ruang kelas, tetapi juga berperan sebagai duta budaya yang memperkenalkan kekayaan identitas Indonesia kepada para siswa, masyarakat di Korea, bahkan sebaliknya mengadaptasi dan mengadopsi hal baik yang bisa diterapkan di Indonesia.Seleksi Ketat dan Misi Diplomasi PendidikanKeberangkatan Chandra ke Negeri Ginseng bukanlah proses yang instan. Ia harus melalui serangkaian seleksi ketat yang menguji kompetensi pedagogik, kemampuan bahasa,wawancara, tes psikologi, serta wawasan wawasan global. Keberhasilannya menembus seleksi ini dari jutaan guru di Indonesia, menempatkan SMP Islam Al Azhar 37 Pekanbaru dalam peta pendidikan global.“Ini bukan sekadar program mengajar biasa. Ini adalah misi diplomasi lunak (soft diplomacy) melalui pendidikan. Kami yang terpilih membawa tanggung jawab untuk menunjukkan kualitas guru Indonesia, sekaligus menyerap praktik baik pendidikan di Korea Selatan untuk dibawa pulang,” ujar Chandra.Dampak Signifikan: Jembatan Budaya dan Kompetensi GlobalKehadiran Chandra di Wolseong Middle School memberikan dampak yang nyata, baik bagi siswa di Korea maupun bagi ekosistem pendidikan di sekolah asalnya.Bagi siswa Korea, interaksi langsung dengan guru dari Indonesia membuka wawasan multikultural mereka. Chandra mengintegrasikan materi Bahasa Inggris dengan pengenalan budaya Indonesia, mulai dari keragaman etnis, nilai gotong royong, hingga pariwisata Nusantara. Hal ini sejalan dengan misi APCEIU untuk membangun Global Citizenship Education (GCED).Sementara itu, dampak bagi Indonesia, khususnya SMP Islam Al Azhar 37 Pekanbaru, sangatlah strategis.Peningkatan Kompetensi Pedagogik: Pengalaman mengajar di negara maju memberikan perspektif baru mengenai kedisiplinan, integrasi teknologi dalam kelas, dan manajemen pendidikan yang efisien yang dapat diadopsi di Pekanbaru.Jejaring Internasional: Program ini membuka peluang kolaborasi lanjutan, seperti sister school program atau diskusi virtual antara siswa di Pekanbaru,Indonesia.Malaysia, Korea Selatan, maupun Thailand yang sudah dilaksanakan sebelumnya, dan menunggu Batch selanjutnya.Motivasi bagi Siswa dan Guru Lain: Sosok Chandra menjadi bukti nyata bahwa guru daerah memiliki kapasitas untuk bersaing dan berkontribusi di level global.“Pengalaman selama tiga bulan ini mengajarkan saya bahwa pendidikan adalah bahasa universal. Meskipun berbeda bahasa dan budaya, semangat untuk memajukan generasi muda adalah sama. Saya berharap ilmu yang saya dapatkan bisa saya terapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SMP Islam Al Azhar 37,” pungkas Chandra.Kembalinya Chandra Alfindodes ke tanah air membawa harapan baru bagi transformasi pendidikan yang berwawasan global namun tetap berakar pada identitas budaya bangsa.
Kunjungi instagram sekolah kami : https://www.instagram.com/smpialazhar37.pku/
Informasi Pendaftaran Murid Baru : https://smpia37.al-azhar.sch.id/brosur-pmb/










